Senin, 12 Agustus 2013

Gray


Ini aku. Satu diantara mereka yang menikmati posisinya sebagai penonton. Mengamati suatu hal tanpa perlu diperhatikan. Menyukai tanpa perlu di sukai. Seperti matahari yang menikmati pemandangan makhluk hidup di bumi. Berlari, mendaki, bekerja, menari, menangis, melayang. Matahari tidak perlu di perhatikan, ia cukup menjadi penonton. Seperti aku.
            Aku suka mengamati dirimu. Diam-diam menjadi penontonmu. Menjadi latar belakang yang tidak perlu diketahui siapapun, termasuk kamu.
            Namun, aku bukan satu diantara mereka yang diam-diam melukis parasmu saat kamu sedang tertidur di bangku taman. Aku bukan satu diantara mereka yang suka memotret dirimu saat kamu menembakkan bola basket ke dalam ring.
            Aku hanyalah aku yang merasakan kebebasan sebagai pengamat dirimu yang menjadi objek dari setiap arah pandangku. Aku tidak perlu apapun selain kamu yang ada di depan sana. Dengan segala hal yang kamu lakukan, hitam berubah menjadi jingga, putih berubah menjadi kuning. Semuanya terang, denganmu.
            Aku seperti jejak yang semakin memudar dan tidak berharap ditemukan. Aku ada tetapi tidak nyata. Aku jingga, tetapi abu-abu. Tetapi aku merasakan ketenangan menjadi latar belakang, karenamu.
            Kemudian ia datang.
            Karena dirinya, aku mengharapkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih. Ia menunjukkanku bahwa ada sesuatu yang lebih sempurna daripada menjadi penonton, yaitu disisimu. Melihat dirinya yang bisa berbagi tawa denganmu, berpandang-pandangan denganmu, menyentuh kehangatan kulitmu, berbicara denganmu. Aku ingin lebih dari sekedar memperhatikan bayanganmu. Lebih dari menjadi latar belakang dan penonton. Lebih dari sekedar merasakan kebebasan sendiri, tetapi denganmu. Lebih dari sekedar jingga, aku ingin pelangi.
            Tapi lagi-lagi ini hanyalah aku. Satu dari mereka yang hanya bisa duduk sebagai penonton. Menikmati bayanganmu dari kejauhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar