Photo Credit: http://weheartit.com/entry/72143056/tag/text
Ini aku. Satu diantara mereka yang menikmati posisinya
sebagai penonton. Mengamati suatu hal tanpa perlu diperhatikan. Menyukai tanpa
perlu di sukai. Seperti matahari yang menikmati pemandangan makhluk hidup di
bumi. Berlari, mendaki, bekerja, menari, menangis, melayang. Matahari tidak
perlu di perhatikan, ia cukup menjadi penonton. Seperti aku.
Aku suka
mengamati dirimu. Diam-diam menjadi penontonmu. Menjadi latar belakang yang
tidak perlu diketahui siapapun, termasuk kamu.
Namun, aku
bukan satu diantara mereka yang diam-diam melukis parasmu saat kamu sedang
tertidur di bangku taman. Aku bukan satu diantara mereka yang suka memotret
dirimu saat kamu menembakkan bola basket ke dalam ring.
Aku hanyalah
aku yang merasakan kebebasan sebagai pengamat dirimu yang menjadi objek dari
setiap arah pandangku. Aku tidak perlu apapun selain kamu yang ada di depan
sana. Dengan segala hal yang kamu lakukan, hitam berubah menjadi jingga, putih
berubah menjadi kuning. Semuanya terang, denganmu.
Aku seperti
jejak yang semakin memudar dan tidak berharap ditemukan. Aku ada tetapi tidak
nyata. Aku jingga, tetapi abu-abu. Tetapi aku merasakan ketenangan menjadi
latar belakang, karenamu.
Kemudian ia
datang.
Karena
dirinya, aku mengharapkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih. Ia
menunjukkanku bahwa ada sesuatu yang lebih sempurna daripada menjadi penonton,
yaitu disisimu. Melihat dirinya yang bisa berbagi tawa denganmu,
berpandang-pandangan denganmu, menyentuh kehangatan kulitmu, berbicara
denganmu. Aku ingin lebih dari sekedar memperhatikan bayanganmu. Lebih dari
menjadi latar belakang dan penonton. Lebih dari sekedar merasakan kebebasan
sendiri, tetapi denganmu. Lebih dari sekedar jingga, aku ingin pelangi.
Tapi
lagi-lagi ini hanyalah aku. Satu dari mereka yang hanya bisa duduk sebagai
penonton. Menikmati bayanganmu dari kejauhan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar