Matahari dan bulan adalah satu.
Itulah persepsiku sejak kecil. Ayah bilang bahwa keduanya memiliki fungsi dan tugas yang sama, yaitu untuk menerangi dunia dengan cahayanya. Matahari, pusat tata surya, benda bulat dan luar biasa besarnya itu, selalu menerangi bumi dengan cahayanya yang luar biasa indah. Dan bulan, sesuatu yang aku cintai di kala malam. Bulan bertugas saat matahari sudah lelah dan perlu beristirahat.
Matahari hanya menginginkan bulan, bulan hanya menginginkan matahari. Keduanya seakan-akan sudah ditakdirkan untuk satu sama lain. Walaupun waktu memisahkan mereka, tapi aku tetap percaya bahwa mereka adalah satu. Lagipula, tidak akan ada yang bisa menandingi matahari. Cahayanya begitu kuat dan memukau, membuat siapapun akan jatuh hati padanya, khususnya bulan.
Tidak boleh ada yang lain. Seharusnya, tidak boleh ada yang lain. Namun terkadang kita melupakan kehadiran bintang. Dulu, aku membenci bintang. Mengapa bintang harus menemani bulan di kala malam? Rasanya ingin aku memarahi bintang dan mengatakan bahwa bulan adalah milik matahari sepenuhnya. Lagipula, bintang bukan apa-apa jika dibandingkan dengan matahari.
Namun kini, aku menyadari sesuatu. Bintanglah yang paling berusaha. Bintanglah yang selalu ada. Bintang selalu ingin mencoba untuk terluhat di mata bulan. Dengan cahaya yang kecil dan wujudnya yang tidak sehebat matahari, bintang tidak pernah putus asa unttuk menemani bulan. Bintang berpikir, mungkin akan ada saatnya dimana bulan akan melihat keberadaannya dan melupakan matahari yang begitu hebatnya.
Seperti aku, yang tidak pernah berhenti mencoba agar kau lihat dan kau terima keberadaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar