Selasa, 29 Januari 2013

The last letter









Dari kejauhan, aku bisa mendengar suara sayup-sayup ikan yang berenang di danau. Aku melangkah semakin cepat, menghampiri pinggir danau tersebut. Kemudian aku duduk di bawah pohon besar yang rindang dan sebuah kursi kayu cokelat yang sudah ada di sini sejak pertama kali kita bertemu. Tepatnya tiga tahun yang lalu.
Aku melihat ke depan, menerawang jauh ke arah danau yang cukup besar. Ada beberapa orang yang sedang sekedar berjalan-jalan santai di sepinggir danau, ataupun memberi makan ikan-ikan. Aku tidak tahu mengapa aku bisa ada di sini. Aku hanya ingat setelah tadi aku mendapat surat dan membacanya, aku segera menuju ke tempat ini. Sebuah keharusan yang membuatku menginginkan untuk berada di sini. Ya, tempat yang meninggalkan berjuta kenangan manis dan pahit.
Dadaku sesak. Aku mengepal kedua tanganku keras. Air mataku sudah tak terbendung lagi. Biarlah orang-orang yang melihatku menganggapku cengeng. Aku memang seorang lelaki, tetapi apa itu artinya aku tak boleh merindukanmu? Apa aku tidak boleh memintamu tuk kembali? Apa aku harus berpura-pura untuk tegar? Tidak. Cukup sudah. Sudah cukup bagiku untuk menyakiti diriku sendiri selama setahun ini. Ya, aku menyakiti diriku sendiri dengan cara berpura-pura tegar, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, berpura-pura kau tak pernah terlahir ke dunia.
Aku telah menyibukkan diriku sendiri selama setahun ini, semenjak kau pergi. Aku mencoba untuk berlari dari kehidupan lamaku. Aku mencoba untuk bertahan. Aku sendiri tidak pernah meyakinkan diriku bahwa aku benar-benar baik-baik saja. Dan kini aku sadar, keadaan tidak pernah membaik. Malah semakin buruk.
Aku masih ingat bau parfum yang sering kau pakai saat bertemu denganku. Vanilla. Harum dan menenangkan. Seperti dirimu yang selalu bisa menenangkanku di berbagai saat. Seperti saat fotoku tidak lolos dalam sebuah perlombaan, kau datang dan berkata, “Mungkin ini bukan saatnya. Masih ada beribu kesempatan yang akan membuatmu berhasil.”
 Air mataku menetes. Tidak, selama setahun ini aku tidak pernah menangis lagi karena hal ini. Mohon kembalilah... Aku mohon... Biarkan aku berada di sampingmu lagi, biarkan aku merasa nyaman lagi, biarkan hidupku kembali bersinar seperti dulu di saat kau masih di sini. Aku merindukanmu.
Aku menatap sebuah kertas yang sejak tadi masih aku genggam. Sebuah kertas yang membuat semuanya kembali terasa hidup dan membuatku ingin untuk melihatmu. Lagi-lagi, aku meresapi kata per kata yang kau tuliskan dengan pena kesayanganmu di atas kertas itu.

***

            Hai.
            Bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja. Ya, kau harus baik-baik saja, karena ada orang-orang yang sedang memikirkan keadaanmu, seperti aku. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Sebenarnya, aku tidak tahu harus memulainya darimana. Aku punya beribu kata yang harus kuungkapkan kepadamu. Baiklah, akan aku mulai.
            Kau pasti bertanya-tanya mengapa surat ini baru ada di tanganmu sejak satu tahun kepergianku, benar? Aku sudah menulis surat ini sejak aku berada di rumah sakit, ya sudah lumayan lama. Aku selalu memikirkanmu, dimanapun, kapanpun.  Kau adalah satu-satunya alasan untukku untuk bertahan hidup. Kau selalu bisa membuat segalanya lebih baik. Saat kau di sampingku, aku merasa penyakit yang sedang kurasakan saat itu sangat manis seperti permen kapas. Ya, kau selalu bisa.
            Dan aku ingin meminta maaf. Maaf karena saat itu aku tidak bisa menerima perasaanmu. Aku sudah terlalu nyaman dengan status ‘persahabatan’ di antara kita. Dan rasanya mustahil bagiku untuk memulainya kembali denganmu dengan perasaan yang berbeda. Tapi, jangan pernah mengira bahwa aku tidak pernah menyukaimu. Akulah yang pertama kali menyukaimu. Ya, saat itu di ulang tahunku yang ke 15, aku pertama kali menyukaimu. Entahlah, kau berbeda dengan yang lain. Kau selalu bisa membuat segalanya menjadi nyata. Di mataku, kau adalah yang terbaik. Berlian di atas jutaan batu karang. Aku menyayangimu, selamanya.
            Jangan menangis. Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja. Walau aku sudah tak bisa selalu menemanimu, percayalah bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bukan berarti besok, atau hari esoknya lagi, tetapi percayalah semuanya akan membaik. Kau akan tersenyum riang mengingat memori masa lalu yang pernah kau tangisi. Sekali lagi, hapuslah air matamu, jangan menangis.
            Aku belum sempat mengucapkan ini kepadamu. Kata-kata yang selalu ingin aku sampaikan kepadamu. Terima kasih. Ya, terima kasih atas hadirmu ke duniaku. Kau menyinari semuanya. Kau membuatku merasa lebih baik. Kau selalu bisa membuatku percaya. Kau membuat segalanya menjadi nyata. Ya, kau selalu bisa.
            Bangkitlah. Masih ada beribu orang yang menginginkan hadirmu. Masih ada ribuan orang yang selalu senang melihatmu tersenyum dan selalu sedih melihatmu menangis. Raihlah mimpimu. Aku di sini selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Sekali lagi, terima kasih.

            Sampai jumpa.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar