Angan
Aku
tersenyum riang melihat sekeliling ruangan. Kafe yang memang sengaja buka dua
puluh empat jam ini, selalu memberikan suasana sendu yang hangat. Lampu-lampu
kecil--yang biasa digunakan untuk dililitkan pada pohon natal--di gantung
dengan asal di setiap sudut ruangan. Radio kuno yang hanya dijadikan pajangan,
terletak di samping mesin kasir.
Senyumku belum pudar sejak kemarin saat kau bilang akan
mengajakku kemari. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Masih ada beberapa orang yang sedang mengobrol di sekelilingku. Aku duduk
sendiri, menunggu kamu. Kamu bilang setelah mngantarku tadi, kamu harus pergi
sebentar mencari sesuatu.
Aku tahu besok adalah hari dimana aku dilahirkan. Aku
tidak peduli sebenarnya. Aku senang karena kamu yang mengajakku.
Aku masih duduk ditemani cappucino yang belum aku sentuh sama sekali saat jarum jam sudah
hampir menunjukkan angka 12. Lima menit
lagi.
Pintu seketika terbuka, seseorang muncul di balik pintu
dan segera menghampiriku dengan seulas senyum diwajahnya. Temanmu.
“Maaf aku terlambat. Aku harap kau mau menerima ini,” ia
mengulurkan sebuah kotak merah kepadaku.
Senyumku seketika pudar. Napasku sesak. Bukan dia.
Seharusnya kamu yang mengatakan hal itu, bukan dia. Bukan ini yang aku mau.
Tangisku menetes untuk angan yang aku anggap nyata,
ternyata tidak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar