Comeback, be here.
Hari
ini aku kembali lagi. Kembali merasakan rasa-rasa yang telah lama kutinggalkan,
yang sudah lama kusimpan dalam kotak persembunyiannya. Aku tidak pernah ingin
kembali. Aku ingin berpura-pura tegar, tenang, senang, bahagia dengan
perasaanku yang sudah lama kuubah. Aku tidak ingin menjadi sosok yang seperti
dulu. Dimana aku terlihat lemah dan menyedihkan. Aku kira, perasaanku tidak
akan muncul lagi. Aku kira semuanya tidak akan kembali. Aku kira kini semuanya
sudah benar-benar baru. Ternyata aku salah.
Perasaan
itu memang egois. Perasaan itu datang secara diam-diam memasuki ruang hatiku
yang kini sudah tenang, tetapi perasaan itu menghancurkannya. Perasaan itu
datang bersamaan dengan mimpi indah yang datang padaku semalam, yang kini aku
anggap sebagai mimpi buruk. Aku ingat bagaimana ia hadir di dalam mimpiku. Ya,
dirinya.
Ia
memandangku dengan tenang di bawah terangnya sinar mentari, di antara
bunga-bunga yang bermekaran, di atas padang rumput yang tentram. Tersenyum
hangat ke arahku. Lalu ia meraih tanganku dan mengajakku berdansa. Aku berdansa
mengikuti irama suara angin yang damai. Aku menatap kedua bola mata cokelat
indah yang juga sedang menatapku. Lalu ia mendekat, membisikkan sesuatu di
dekat telingaku.
"Aku akan selalu di sini, bersamamu."
katanya.
Aku
hanya mengangguk pelan, memandangnya penuh arti. Seketika mentari yang sedang
bersinar, di tutupi oleh awan hitam jahat. Awan itu memaksa menguasai langit.
Padahal semua orang tahu, langit itu milik mentari. Lalu, ia menjauh. Ia
melayang semakin jauh, menuju awan. Genggamannya lepas dari jemariku. Awan
hitam itu merenggut dirinya dari sisiku. Awan itu membuat dirinya lupa akan
kata-katanya. Bahkan, ia belum sempat mengucap kata selamat tinggal. Dan seketika
aku terbangun dari mimpi buruk itu dan diselimuti oleh perasaan jahat itu.
Tangisku pecah.
Kemana
awan hitam itu membawa dirinya? Apa kini dirinya sedang bahagia? Apa kini ia
baik-baik saja?
Kini
aku berada di samping nisan putih bertuliskan namanya sambil menggenggam
setangkai mawar merah yang dulu selalu ia beri untukku. Tiada kata yang bisa
terucap dari mulutku. Aku hanya menyentuh nisan itu perlahan. Ia bilang ia akan
selalu di sini, bersamaku. Tapi, awan hitam itu membawanya pergi.
Seketika
tangisku pecah kembali, meneteskan air mata redup. Perasaan itu terus
menyelimuti. Perasaan saat aku merasa bahwa semuanya sudah benar-benar
berakhir, perasaan saat aku merasa hidupku tak berarti lagi. Dan itu karena
dirinya. Mohon kembalilah, seperti apa yang ia katakan bahwa ia akan selalu ada
di sini, bersamaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar