Jumat, 30 November 2012

Comeback, be here.


Comeback, be here.

Hari ini aku kembali lagi. Kembali merasakan rasa-rasa yang telah lama kutinggalkan, yang sudah lama kusimpan dalam kotak persembunyiannya. Aku tidak pernah ingin kembali. Aku ingin berpura-pura tegar, tenang, senang, bahagia dengan perasaanku yang sudah lama kuubah. Aku tidak ingin menjadi sosok yang seperti dulu. Dimana aku terlihat lemah dan menyedihkan. Aku kira, perasaanku tidak akan muncul lagi. Aku kira semuanya tidak akan kembali. Aku kira kini semuanya sudah benar-benar baru. Ternyata aku salah.
Perasaan itu memang egois. Perasaan itu datang secara diam-diam memasuki ruang hatiku yang kini sudah tenang, tetapi perasaan itu menghancurkannya. Perasaan itu datang bersamaan dengan mimpi indah yang datang padaku semalam, yang kini aku anggap sebagai mimpi buruk. Aku ingat bagaimana ia hadir di dalam mimpiku. Ya, dirinya.
Ia memandangku dengan tenang di bawah terangnya sinar mentari, di antara bunga-bunga yang bermekaran, di atas padang rumput yang tentram. Tersenyum hangat ke arahku. Lalu ia meraih tanganku dan mengajakku berdansa. Aku berdansa mengikuti irama suara angin yang damai. Aku menatap kedua bola mata cokelat indah yang juga sedang menatapku. Lalu ia mendekat, membisikkan sesuatu di dekat telingaku.
 "Aku akan selalu di sini, bersamamu." katanya.
Aku hanya mengangguk pelan, memandangnya penuh arti. Seketika mentari yang sedang bersinar, di tutupi oleh awan hitam jahat. Awan itu memaksa menguasai langit. Padahal semua orang tahu, langit itu milik mentari. Lalu, ia menjauh. Ia melayang semakin jauh, menuju awan. Genggamannya lepas dari jemariku. Awan hitam itu merenggut dirinya dari sisiku. Awan itu membuat dirinya lupa akan kata-katanya. Bahkan, ia belum sempat mengucap kata selamat tinggal. Dan seketika aku terbangun dari mimpi buruk itu dan diselimuti oleh perasaan jahat itu. Tangisku pecah.
Kemana awan hitam itu membawa dirinya? Apa kini dirinya sedang bahagia? Apa kini ia baik-baik saja?
Kini aku berada di samping nisan putih bertuliskan namanya sambil menggenggam setangkai mawar merah yang dulu selalu ia beri untukku. Tiada kata yang bisa terucap dari mulutku. Aku hanya menyentuh nisan itu perlahan. Ia bilang ia akan selalu di sini, bersamaku. Tapi, awan hitam itu membawanya pergi.
Seketika tangisku pecah kembali, meneteskan air mata redup. Perasaan itu terus menyelimuti. Perasaan saat aku merasa bahwa semuanya sudah benar-benar berakhir, perasaan saat aku merasa hidupku tak berarti lagi. Dan itu karena dirinya. Mohon kembalilah, seperti apa yang ia katakan bahwa ia akan selalu ada di sini, bersamaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar