“Start writing, no matter what. The water does not flow until the faucet is turned on.” ― Louis L'Amour
Senin, 20 April 2015
Selamat Tinggal
Selamat tinggal.
Aku tidak pernah menyukai dua kata itu. Aku membencinya. Kita tidak seharusnya mengucapkan selamat tinggal di situasi dan kondisi apapun. Dua kata itu hanya menunjukkan perpisahan, seakan-akan semuanya berakhir dan tidak akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Tidak masuk akal dan tidak rasional. Sebagai manusia yang di anugerahi banyak hal oleh Tuhan, seharusnya kita melakukan apapun agar perpisahan itu tidak terjadi.
Seharusnya, kita mengubahnya dengan ucapan sampai berjumpa. Dua kata itu lebih memiliki arti. Memiliki tanda bahwa akan ada pertemuan selanjutnya, dan tidak akan terjadi perpisahan. Untuk apa berpisah jika masih bisa bertemu? Setidaknya kita harus berusaha, melakukan apapun, agar kata selamat tinggal tidak terucap dan semuanya tidak berakhir.
Namun, rupanya nasibku kurang beruntung. Dua kata itu kembali aku dengar lima menit lalu.
"Selamat tinggal."
Ia mengatakannya. Orang favoritku di dunia mengucapkan selamat tinggal. Dua kata yang paling aku benci.
Tidak mungkin. Aku salah dengar. Iya, aku salah dengar. Ia tidak mungkin mengatakannya.
"I will never say goodbye to you." Itu katanya, dua tahun yang lalu, di bawah terangnya sinar bulan.
Namun lagi-lagi, rupanya nasibku kurang beruntung. Aku menyadari bahwa ia benar-benar mengatakannya. Orang favoritku di dunia mengucapkan selamat tinggal. Aku menyadarinya saat melihat punggungnya berjalan menjauh dan tidak menoleh sekalipun.
Saat itu pun tangisku pecah.
Perpisahan itu nyata. Tidak akan ada lagi pertemuan-pertemuan selanjutnya dengannya. Ia sudah pergi.
Meninggalkanku di bawah terangnya sinar bulan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar