Senin, 11 Juli 2011

FanFiction: No other.

Genre: Romance.
Cast: Donghae (Super Junior), Jessica (Snsd), and Yesung (Super Junior)

No other

Aku membuka jendela apartemenku untuk bisa merasakan udara segar pagi hari itu. Angin dingin menyambutku dengan lembut pagi itu. Rasanya segar sekali membiarkan oksigen merambat ditenggorokanku.

Aku menuju ke meja makan. Aku sudah menyiapkan segelas susu putih untuk minuman pembuka pagi ini. Setelah beberapa teguk, aku meletakkannya kembali. Aku melihat jam dinding yang aku gantung di atas televisi.

Pukul 06.15. Masih sangat pagi. Masih ada cukup waktu untuk bersantai-santai di apartement-ku sebelum jam kuliah nanti. Aku menguap, lalu duduk santai di sofa sambil membaca koran hari ini.

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Ternyata ada panggilan dari Jessica, sahabatku sejak SMU. Kebetulan kami satu kampus. Aku segera menyambar ponsel yang aku letakkan di meja samping sofa dan mengangkat panggilan itu.

“Ya, ada apa?”

“Donghae-oppa! Apakah kau sibuk sebelum ke kampus?” tanya Jessica dari seberang sana.

“Hm…sepertinya tidak. Memang ada apa?” aku bertanya penasaran.

“Bisakah kau menemaniku ke toko buku dekat kampus? Ada sesuatu yang harus aku beli.”

“Kenapa kau tidak minta Yesung-hyung untuk menemanimu? Atau mungkin ia sedang berkencan dengan wanita lain,” ucapku ketus, aku bermaksud menyindirnya.

“Oppa! Jangan berbicara seperti itu! Yesung-oppa sedang ada latihan basket pagi ini. Jadi, apa kamu mau menemaniku?”

“Baiklah, setengah jam lagi aku sampai dirumahmu.”

Telpon pun terputus.

Aku tidah habis pikir dengan perempuan itu. Kenapa ia tidak pernah percaya kepadaku bahwa pacarnya itu, Yesung, adalah seorang playboy! Aku pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bahwa Yesung-hyung sedang berkencan dengan perempuan yang berbeda. Semoga saja Jessica secepatnya akan tahu.

Dengan gerakan secepat kilat, aku segera mandi, bersiap, lalu segera menuju rumah Jessica menaiki motorku.

Beberapa saat kemudian aku sampai dirumah Jessica. Ternyata Jessica sudah siap menungguku mengenakan baju yang rapih di depan rumahnya sejak tadi. “Donghae-oppa! Kau lama sekali!”

“Mwo? Aku bilang aku akan sampai dirumahmu setengah jam kemudian, dan benar kan aku datang tepat waktu. Kau saja yang terlalu rajin,” ujarku. “Ayo cepat pakai helm-mu dan naiklah!” Aku memberikan helm yang khusus aku belikan untuknya karena ia sering berangkat dan pulang bersama denganku.

“Pegangan yang erat, aku akan mengebut!” aku memperingatkan.

Kamu berdua pun sampai di toko buku dekat kampus kami. Aku memarkirkan motor persis di depan toko. Jessica masuk ke dalam toko buku sendirian, sedangkan aku menunggu diluar toko. Sembari duduk di bangku yang disediakan toko untuk menunggu, aku menyalakan ipod-ku supaya tidak bosan.

Berbagai lagu aku putar. Sebagian adalah lagu-lagu yang ber-genre mellow. Jujur saja, itu favoritku.

Jessica keluar dari toko buku setelah beberapa saat dan segera duduk di sebelahku. Ia menoleh, lalu berkata, “Donghae-oppa, besok adalah first anniversary aku dan Yesung-oppa yang pertama. Aku senang sekali. Ia bilang, ia akan mengajakku makan malam di restaurant kesukaanku. Katanya aku harus memakai pakaian dan berdandan secantik mungkin. Romantis sekali bukan? Wah, aku sangat mencintainya.”

Aku mendengar kata demi kata yang Jessica ucapkan dengan penuh antusias. Tapi entah kenapa mendengar ia mengatakan bahwa ia sangat mencintai Yesung-hyung membuat dadaku terasa sesak sekali. Aku diam saja, tidak memberi respon.

“Oppa! Kenapa kau melamun saja?”

Aku menggeleng perlahan. Aku berjalan menuju motor sambil berkata, “Sudah, ayo cepat berangkat sebelum terlambat!”

Jessica pun melakukan apa yang aku suruh dengan muka cemberut karena aku tidak memberinya respon saat ia berbicara. Jujur saja, kau tetap cantik saat cemberut seperti itu.

***

Setelah kelas selesai, aku ada pertemuan sebentar bersama teman-temanku tentang sebuah tugas. Setelah itu, aku segera mencari Jessica. Ia bilang ia ingin pulang bareng denganku.

Setelah aku berputar-putar mencari gadis itu, akhirnya aku menemukannya di kantin kampus. Aku melihatnya dari kejauhan, ia sedang berbincang bersama teman-temannya. Gadis itu terlihat sangat ceria. Ya, dia selalu begitu.

Aku memandanginya dari kejauhan. Entah kenapa walau hanya menatap wajahnya bisa membuatku merasa nyaman. Saat ia tertawa membuatku merasa senang dan ikut bahagia. Saat ia tersenyum, ia jadi terlihat lebih cantik dan manis. Aku menyukai itu.

Aku tidak tahu sejak kapan aku bisa berfikiran seperti itu. Mau bagaimana pun aku dan Jessica hanyalah sepasang sahabat. Percuma saja aku berharap lebih dengan gadis itu. Lagipula ia sudah mempunyai orang lain yang sudah mengisi seluruh bagian dalam hatinya. Jadi, lebih baik aku buang saja perasaan ini jauh-jauh. Walau aku tahu ini akan sulit, mau tidak mau aku harus bisa.

Aku sangat tidak tega melihat Jessica dipermainkan oleh Yesung-hyung. Jujur saja, Yesung-hyung memang lebih tampan dariku. Ia sangat popular di kampus, ia bintang basket, suaranya sangat merdu, dan gayanya juga sangat keren. Tidak aneh jika Jessica tergila-gila dengannya. Tetapi tetap saja ia telah membohongi sahabatku.

Tiba-tiba, Jessica melihatku yang sedang memerhatikannya dari kejauhan. Ia mengucapkan sesuatu kepada teman-temannya lalu beranjak pergi menghampiriku.

“Sudah lama menungguku? Kenapa tidak memanggilku?” tanya Jessica sambil duduk dihadapanku.

“Lagipula, apa kau mau di ganggu?” tanyaku dengan nada menggoda.

Ia menekuk wajahnya. Kesal.

“Mianhae… aku hanya bercanda,” kataku. “Jadi pulang bareng denganku?”

Jessica mengangguk pelan, masih terlihat kesal. Aku ingin sekali tertawa melihat wajah sahabatku jika sedang kesal. Ia terlihat sangat menggemaskan.

“Ayo!” aku berdiri dan menarik tangannya. Gadis itu pun berdiri, wajahnya sudah tidak cemberut lagi.

“Donghae-oppa, berhubung besok Yesung-oppa ingin mengajakku dinner, aku harus mempunyai gaun yang bagus,” kata Jessica dalam perjalanan menuju tempat parkir.

“Lalu? Apa hubungannya denganku?” tanyaku agak ketus.

“Kau harus menemaniku mencari gaun untuk besok!” teriak gadis itu tiba-tiba.

Aku tersentak. “Kenapa harus aku? Aku kan laki-laki.”

“Ayolah, kau ini kan sahabat ku yang baik,” gadis itu mulai merayu sambil menggoyang-goyangkan lenganku.

“Hm….tapi kau harus mentraktirku makan,” ucapku datar.

Gadis itu segera melompat-lompat kegirangan. “Tentu saja! Terima kasih, oppa!” Aku juga ikut senang bila ia senang.

***

Aku mengikutinya dari satu toko ke toko lainnya dengan senang hati walau sangat lelah. Aku tidak tahu bagaimana selera pakaian Jessica, sudah berpuluh-puluh baju ia lihat tetapi katanya tidak ada yang cocok untuknya. Menurutku, ia cocok memakai baju apa saja dengan badannya yang sangat ideal.

Jessica berdiri didepan kaca sambil memegang beberapa dress dengan warna yang bermacam-macam. Ia melihat satu persatu baju yang dipegangnya, lalu menggeleng. Aku hanya mengamatinya. Wajahnya sangat serius dan sangat menggemaskan.

Aku melihat sebuah mini dress yang menarik perhatian ku diantara baju-baju yang digantung. Dress itu berwarna pink soft dan ada sedikit hiasan kecil bunga-bunga pada bagian bawah. Cantik sekali. Mungkin ini cocok untuk Jessica, pikirku. Aku pun mengambil dress itu dan menunjukkannya kepada Jessica.

“Hey! Bagaimana dengan yang ini?”

Jessica menoleh melihat gaun yang aku pegang. Ia meletakkan beberapa gaun yang ia pegang lalu berjalan mendekatiku. Ia menyentuh lembut permukaan gaun yang aku pegang sambil membentuk senyum diwajahnya.

“Ini yang aku cari!”

Lalu ia mencoba dress itu. Jujur saja, kuakui ia cantik sekali. Setelah itu ia membayar gaun tersebut. Karena perjanjiannya ia akan mentraktirku makan, kami pun menuju kedai mie ramen di dekat rumah Jessica. Malam itu berlalu dengan sangat ceria, tetapi tetap saja ada perasaan sesak saat Jessica membicarakan tentang Yesung-hyung.

***

Kessokkan harinya, karena tidak ada jadwal kuliah aku bersantai-santai saja di rumah sambil bermain playstation, menonton televisi sambil memakan makanan kesukaanku. Malam pun tiba, aku tahu malam ini Yesung-hyung dan Jessica akan makan malam bersama untuk merayakan First Anniversary mereka.

Aku jadi uring-uringan saat memikirkan itu. Sungguh menyakitkan. Tetapi, aku jadi penasaran bagaimana makan malam itu berlangsung. Entah kenapa aku ingin menyaksikan sendiri adegan yang mungkin akan menyakiti diriku sendiri. Kemarin malam, Jessica sempat menyebutkan tempat makan yang akan mereka kunjungi. Katanya itu berlokasi dekat Namsan Tower, itu artinya cukup dekat dengan apartemenku.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menyambar jaket, kunci motor, dompet, dan ponselku. Aku menyetir motor secepat kilat karena takut terlambat jika ada momen-momen indah. Jujur aku, penasaran sekali.

Akhirnya aku sampai di restaurant itu. Tempatnya memang sangat romantis diliputi dengan kolam ditengah-tengah restaurant dan diberikan lampu berwarna-warni disekitarnya. Aku melangkahkan kaki memasuki restaurant itu tetapi tetap waspada jika Jessica dan Yesung-hyung melihatku.

Aku duduk disalah satu kursi sambil terus melihat disekitarku untuk mencari dimanakah pasangan yang sedang berbahagia itu. Seorang pelayan menanyakan pesananku tetapi aku bilang nanti saja dengan alasan aku masih menunggu seseorang. Pelayan itu pun pergi.

Akhirnya aku menemukan Jessica sedang duduk di salah satu tempat dipinggir kolam. Ia sedang duduk melamun sambil memerhatikan kolam. Jessica sangat cantik malam ini dibaluti dengan gaun yang aku pilihkan kemarin untuknya dan ia berdandan sangat cantik. Tetapi, kenapa ia sendirian? Kemana Yesung-hyung?

Aku segera menelpon Jessica untuk menanyakan kabarnya.

“Hey, bagaimana makan malam-mu? Romantis-kah?” tanyaku berbasa basi.

“Ia belum datang,” ujarnya datar. Aku mengamati ekspresinya yang lesu dari jauh.

“Kenapa?”

“Katanya ia akan datang telat,” kata Jessica masih dengan tampang lemas. Aku segera mematikan ponselku.

Entah kenapa aku berperasaan bahwa Yesung-hyung sedang bersama gadis lain. Aku tidak rela melihat Jessica menunggu sendirian di sana dengan sangat lemas. Akhirnya aku putuskan untuk menghampirinya.

Jessica terlihat kaget melihatku tiba-tiba duduk di hadapannya. “Sebaiknya kau pulang saja,” ujarku singkat.

“Kau…kau kenapa ada di sini?” Jessica terlihat bingung. “Pulang? Tidak! Aku akan menunggunya. Lagipula ia sudah berjanji,” katanya ketus.

“Ia tidak akan datang. Lihat saja sudah jam berapa sekarang, tidak mungkin ia telat satu setengah jam. Ia pasti tidak akan datang.”

Jessica mulai terlihat panik dan sedih. Ia pucat. “Tidak mungkin.”

Aku sungguh tidak tega melihatnya. Aku segera berdiri dan menariknya lengannya, mengajaknya keluar dari restaurant ini. Wajahnya sudah dibanjiri dengan air mata. Make up yang sudah ia pakai dengan sebaik mungkin hilang begitu saja. Aku memakaikannya ia helm dan menyuruhnya menaiki motor. Sebenarnya aku tidak tahu akan kemana. Aku hanya tidak mau melihatnya menunggu dengan harapan yang tidak akan berarti apa-apa seperti itu.

. Aku bisa merasakan kegelisahannya. Tiba-tiba ia menyuruhku berhenti.

“Ada apa?” tanyaku setelah memberhentikan motor dipinggir jalan.

Ia tidak menjawab, ia hanya turun dari motor lalu melihat sebuah kedai kopi kecil di dekat sana. Jessica memandang lurus ke sana. Aku melihat kedai kopi itu, ternyata ada Yesung-hyung di sana bersama dengan seorang wanita. Jessica membalikkan badan, ia menundukkan wajahnya yang sudah dibanjiri dengan air mata. Ia menunjukkan ketegarannya, tetapi aku tahu ia tidak akan bisa.

Aku menatap wajahnya. Sangat tidak tega. Maafkan aku Jessica karena tidak bisa menjagamu. Maafkan aku….

Gadis yang tadinya ceria itu sekarang berubah seratus delapan puluh derajat. Ia mengatakan sesuatu dengan suara yang sangat pelan dan lemah, “Ayo jalan lagi.”

Aku tidak berkutik, aku ikuti saja perintah gadis itu. Setelah Jessica sudah duduk dibelakangku, aku segera mengendarai motorku kembali. Pikiranku sangat tidak tenang karena kesedihan yang dialami Jessica. Aku hanya mengarahkan setir motor lurus saja, mengikuti jalan. Akhirnya, aku berhenti di sebuah jembatan besar di Seoul. Dari atas sana kita dapat melihat kota Seoul pada malam hari. Indah sekali. Banyak lampu kota yang berarna-warni.

Jessica segera beranjak dan menuju pinggir jembatan. Aku mengikutinya. Jessica masih menangis. Aku tahu sekali pasti hatinya sedang sangat remuk dan sakit.

“Hey, jika kau ingin menangis, menangislah,” ucapku tiba-tiba. Ia menatapku dengan matanya yang sembab lalu segera memelukku. Ia menangis sambil memelukku. Aku mengelus kepalanya dengan lembut.

“Donghae-oppa, mianhae,” katanya. “Maaf karena tidak pernah mempercayai omonganmu.”

Aku tersenyum, lalu berkata, “Tidak apa-apa.” Aku peluk dengan sangat erat gadis mungil ini. Ada sesuatu yang aku ingin katakan kepadanya, yang sudah lama kupendam dan berusaha aku buang jauh-jauh, tetapi aku tidak bisa. Akhirnya, aku memberanikan diri.

“Aku…aku ingin mengatakan sesuatu,” kataku pelan, tetap memeluknya. “Jessica, sebenarnya selama ini aku menyukaimu.”

Jessica segera tersentak dan melpaskan pelukannya dariku. Ia menatapku dengan sorot mata bertanya-tanya. “Mwo?”

Aku segera meraih tangannya dan menatap matanya dalam-dalam, lalu menghapus air matanya. “Sebenarnya sudah lama aku menyimpan perasaanku ini kepadamu. Aku tahu aku tidak setampan Yesung-hyung. Mungkin kau juga hanya menganggapku sebagai sahabat. Tapi, aku menyayangimu lebih dari sekedar sahabat.”

Ia masih terdiam sejenak dan memandangku bingung. Lalu ia tersenyum kepadaku dan segera memelukku lagi. “Saranghae, oppa.” Aku sangat gembira mendengar ia mengatakan itu. Aku memeluknya dengan sangat erat.

Mulai dari sekarang aku akan menjaganya dan akan selalu menyayanginya. There's no other like you. Saranghae.

~The end~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar